Kamis, 05 Februari 2015

Merpati Import vs lokal


Tren yang berkembang saat ini cenderung menganggap merpati import jauh lebih berkualitas dibanding merpati lokal. Ujung-ujungnya dalam persaingan harga merpati import punya nilai jual yang jauh diatas merpati lokal. Sedangkan merpati lokal terpuruk bahkan tidak jarang hanya masuk keranjang merpati daging. Persepsi seperti ini sudah saatnya diubah.

Perlu diketahui bahwa tidak semua merpati yang dilabel import punya kualitas yang unggul di kelasnya. Pengalaman saya membeli merpati, saat itu saya masih baru dalam merpati hias dan belum tahu apa-apa tentang standard, merpati  yang dikata import tersebut ternyata masih ada major fault. Saya butuh waktu sekitar tiga tahun hanya untuk menghilangkan satu fault dari pasangan yang saya beli. Hala ini mungkin saja merpati yang diimport fault tidak terdeteksi pengimport atau bisa juga seller dari negara asal yang tidak mempunyai standard tinggi dalam kualitas.

Meskipun mendapat merpati import yang berkualitas tetapi penangkaran yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah beternak yang baik, penurunan kualitas hanya tingggal menghitung hari.

Apabila ditekuni, merpati yang dicap lokal dapat mempunyai kualitas yang baik. Memang ini butuh kesabaran, ketelatenan dan juga biaya yang besar. Dulu saya beli dengan harga murah sekarang sudah menunjukkan adanya perbaikan yang lumayan. dari tidak punya dasi dan marking ekor yang sangat minim, kini sudah menunjukkan dasi yang sudah bisa dilihat dan juga marking ekor yang semakin jelas dan akurat. Mungkin dan saya berharap dalam 2 tiga atau empat tahun kedepan perbaikan dapat lebih baik lagi.

Singkatnya tidak perlu memaksakan membeli merpati import jika memang akan memberatkan keuangan. Merpati lokalpun dapat ditingkatkan kulaitasnya dengan metode penangkaran selektif



Tidak ada komentar:

Posting Komentar